Memilih calong legislatif 2019

Prospek Keterwakilan Pada Pemilu Legislatif 2019

Salah satu agenda penting yang perlu diperhatikan pada Pemilu legislatif 2019 ini adalah pemilihan anggota legislatif. Walaupun dinamika yang tersaji tidak sepanas pada persaingan antara capres-cawapres, tetapi bukan berarti wacana tentang legislatif tidak terlepas dari masalah krusial. Salah satunya adalah penangkapan anggota DPRD Kota Malang yang berjumlah 41 anggota dalam kasus korupsi massal telah memberikan gambaran jika kondisi parleman di Indonesia baik pada tingkat daerah hingga nasional masih dilingkupi dengan perilaku korupsi anggotanya.

Salah satu agenda penting yang perlu diperhatikan pada Pemilu legislatif 2019 ini adalah pemilihan anggota legislatif. Walaupun dinamika yang tersaji tidak sepanas pada persaingan antara capres-cawapres, tetapi bukan berarti wacana tentang legislatif tidak terlepas dari masalah krusial. Salah satunya adalah penangkapan anggota DPRD Kota Malang yang berjumlah 41 anggota dalam kasus korupsi massal telah memberikan gambaran jika kondisi parleman di Indonesia baik pada tingkat daerah hingga nasional masih dilingkupi dengan perilaku korupsi anggotanya.

Implikasi politik uang

Dapat dikatakan bahwa buruknya kinerja lembaga legislatif ini pastinya tidak akan bisa dilepas dari pragmatisme politik ketika proses pemilihan berlangsung. Selain membuat Indonesia berada pada posisi ketiga peringkat negara terkorup di dunia, tentunya realita ini dapat menggambarkan jika pola politik uang sebenarnya terjalin secara dua arah. Jika dilihat dari satu sisi, caleg membutuhkan banyak suara agar bisa membuat mereka menang, sedangkan di sisi lain masyarakat rela untuk memberikan suaranya yang telah disyaratkan dengan pemberian kompensasi untuk mereka. Tentunya pada titik ini, peran dari keterwakilan yang memang melekat pada tugas anggota dewan menjadi tidak begitu penting untuk dijalankan dengan maksimal.

Kondisi seperti iniah yang juga diprediksi masih akan terjadi pada pemilu legislatif 2019. Hal ini dikarenakan melihat sistem pemilu yang masih membuka peluang akan pola yang demikian. Adanya sistem proporsional terbuka akan membuat persaingan perebutan suara tentunya semakin sengit untuk setiap caleg serta membuat mereka dengan segala cara berlomba-lomba untuk mendapat suara terbanyak.

Optimalisasi keterwakilan

Tidak efektifnya kinerja legislatif dan pragmatisme politik selanjutnya menyiratkan bahwa kerja penyempurnaan prosedur dari perwakilan harus terus dioptimalkan dengan baik. Tentunya partai politik menjadi elemen utama dan paling penting untuk memastikan hal ini bisa terlaksana. Melalui rekrutmen politik, maka partai politik selanjutnya dituntut agar bisa menciptakan sistem seleksi internal yang terbuka, responsif, dan jelas atas aspirasi politik.

Bukan hanya itu saja, semestinya pada aspek personal caleg optimalisasi bisa dilakukan dengan menuntut para caleg agar tampil berintegritas dengan selalu aktif untuk membangun basis massa di daerahnya. Sehingga pemilu yang akan dilaksanakan nantinya menjadi momentum sebagai uji kandidasi dari para caleg. Tentunya wakil yang terpilih benar-benar mempunyai legitimasi yang kuat untuk konstituen hingga partainya.

Setelah terpilih, tentunya orang tidak hanya melihat atau menilai dari janji kampanye yang mereka katakana saja, namun pemilih juga perlu menilai jika calon yang terpilih benar-benar bekerja dengan baik serta membuat formulasi kebijakan yang bisa mempengaruhi kondisi masyarakat. Tentunya krisis kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan lembaga legislatif bisa menjadi bahan evaluasi strategis paling penting pada proses pemilu legislatif 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *